Home ยป Renewal Fund vs. Danantara: Antara Fiksi Korupsi dan Realita Investasi

Renewal Fund vs. Danantara: Antara Fiksi Korupsi dan Realita Investasi

Renewal Fund & Danantara

Dalam dunia perfilman, sering kali kita menemukan elemen cerita yang menggambarkan realitas kehidupan, termasuk dalam hal pengelolaan dana publik. Salah satu contoh yang menarik adalah The Renewal Fund dalam film The Batman (2022), yang punya sedikit kemiripan dengan program nyata di Indonesia, yaitu Danantara, dana abadi negara yang baru saja diluncurkan. Meski berasal dari dunia yang berbeda, keduanya punya kesamaan dan perbedaan yang menarik untuk dikulik lebih jauh.

Kesamaan Renewal Fund dan Danantara

Sama-sama punya tujuan mulia, baik The Renewal Fund maupun Danantara dirancang untuk membantu masyarakat. Renewal Fund awalnya dibuat oleh Thomas Wayne untuk membangun kembali Gotham dan meningkatkan kesejahteraan warganya. Sementara itu, Danantara hadir sebagai cara pemerintah Indonesia untuk mengelola aset negara dan mendorong investasi demi pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, kedua dana ini juga dikelola oleh kalangan elit. Renewal Fund awalnya dikendalikan oleh Thomas Wayne, tapi setelah kematiannya, dana ini malah jatuh ke tangan pejabat korup dan mafia Gotham. Di sisi lain, Danantara dikelola oleh pejabat tinggi negara dan melibatkan Dewan Penasihat yang berisi nama-nama besar, seperti mantan presiden dan tokoh bisnis.

Yang lebih menarik lagi, baik Renewal Fund maupun Danantara sama-sama punya potensi menjadi alat penyalahgunaan kekuasaan. Dalam The Batman, Renewal Fund yang seharusnya membantu masyarakat justru berubah jadi ladang korupsi para pejabat dan kriminal. Sedangkan Danantara, meski masih dalam tahap awal, tetap perlu diawasi agar pengelolaannya transparan dan tidak disalahgunakan oleh segelintir orang.

Perbedaan Renewal Fund dan Danantara

Meski ada kemiripan, jelas ada perbedaan besar antara keduanya. Renewal Fund adalah dana sosial yang berasal dari filantropi Thomas Wayne dan ditujukan untuk membangun kembali Gotham. Sayangnya, tanpa pengawasan yang baik, dana ini malah disalahgunakan dan membuat kondisi kota semakin buruk. Sebaliknya, Danantara adalah sovereign wealth fund alias dana abadi negara yang bersumber dari aset tujuh BUMN besar di Indonesia. Tujuannya bukan sekadar membantu rakyat secara langsung, tapi juga mengoptimalkan aset negara dan menarik investasi strategis.

Selain itu, perbedaan lain yang cukup mencolok adalah soal pengawasan. Renewal Fund, setelah ditinggal oleh Thomas Wayne, sama sekali tidak punya sistem kontrol yang jelas, sehingga gampang dimanfaatkan oleh mafia Gotham. Sementara itu, Danantara memiliki struktur formal, termasuk Dewan Pengawas dan Badan Pelaksana, yang seharusnya bisa menjaga transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana ini.

Contoh Nyata: Dana Investasi yang Berhasil dan Gagal

Di dunia nyata, sudah ada beberapa contoh dana investasi negara yang berakhir gagal karena korupsi dan salah kelola. Salah satunya adalah 1MDB (1Malaysia Development Berhad) di Malaysia. Dana ini awalnya dibuat untuk menarik investasi dan meningkatkan perekonomian Malaysia, tetapi malah menjadi skandal korupsi terbesar yang melibatkan mantan Perdana Menteri Najib Razak. Sekitar $4,5 miliar dikorupsi dan dialirkan ke rekening pribadi serta untuk membeli aset mewah, menyebabkan Malaysia mengalami krisis keuangan besar.

Sebaliknya, ada juga contoh yang sukses, seperti Temasek Holdings dari Singapura. Berbeda dengan 1MDB, Temasek dikelola secara transparan dengan manajemen profesional dan tidak dikendalikan langsung oleh pemerintah. Dana ini berinvestasi di berbagai sektor strategis dan berhasil meningkatkan aset negara secara signifikan, menjadikannya salah satu sovereign wealth fund paling sukses di dunia.

Opini dan Sudut Pandang Pakar

Beberapa pakar menyoroti pentingnya transparansi dalam pengelolaan Danantara. Eddy Junarsin, pakar ekonomi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), menyatakan bahwa pendirian Danantara merupakan langkah strategis untuk mengelola aset negara secara lebih profesional. Namun, ia juga memperingatkan bahwa tanpa sistem pengawasan yang kuat, risiko penyalahgunaan dana ini tetap ada.

Sementara itu, Aviliani, ekonom senior dari INDEF, menekankan bahwa keberhasilan Danantara sangat bergantung pada independensi dalam pengelolaannya. Ia membandingkan dengan Temasek yang tidak dikontrol langsung oleh pemerintah Singapura, sehingga keputusan investasinya lebih berdasarkan pertimbangan bisnis daripada kepentingan politik.

Di sisi lain, Faisal Basri, ekonom dan pengamat kebijakan publik, mengingatkan agar Danantara tidak menjadi alat kepentingan segelintir elite. Ia menyoroti contoh buruk seperti 1MDB di Malaysia, di mana dana investasi malah digunakan untuk kepentingan pribadi dan politik, sehingga merugikan negara dalam jangka panjang.

Akhir Kata

Kalau kita melihat dari kacamata fiksi, The Renewal Fund dalam The Batman adalah contoh nyata bagaimana sebuah dana sosial bisa gagal total karena korupsi dan lemahnya pengawasan. Di dunia nyata, Danantara masih dalam tahap awal dan punya potensi besar untuk membantu pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tapi tentu saja, keberhasilannya sangat bergantung pada transparansi, tata kelola yang baik, dan pengawasan dari publik.

Belajar dari kasus 1MDB, penting bagi kita untuk memastikan bahwa Danantara tidak menjadi alat korupsi baru. Sebaliknya, jika bisa meniru model sukses seperti Temasek, Indonesia bisa memiliki dana abadi yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat. Yuk, tetap kritis dan pantau bagaimana Danantara dikelola, supaya benar-benar bisa memberikan manfaat maksimal untuk bangsa!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *