Pendahuluan
Dunia perfilman selalu memiliki daya tarik tersendiri saat mengangkat cerita yang berhubungan dengan politik, agama, dan konspirasi tingkat tinggi. Salah satu film terbaru yang berhasil menggabungkan ketiganya dalam satu narasi yang menegangkan adalah Conclave (2025). Film ini diadaptasi dari novel laris karya Robert Harris dengan judul yang sama. Disutradarai oleh Edward Berger, Conclave menyajikan intrik politik gereja yang penuh misteri, ketegangan, dan permainan kekuasaan di balik tembok Vatikan. Film ini menawarkan pengalaman yang tak hanya dramatis, tetapi juga penuh dengan kejutan yang akan membuat penonton terus terpaku di kursi mereka.
Sinopsis Film Conclave
Cerita dimulai dengan wafatnya Paus, yang kemudian memicu proses pemilihan pemimpin baru Gereja Katolik dalam sebuah konklaf—ritual tertutup di mana para kardinal berkumpul untuk memilih Paus baru. Tokoh utama dalam film ini adalah Kardinal Thomas Lawrence (diperankan oleh Ralph Fiennes), seorang pria yang bijak, jujur, dan memiliki tanggung jawab besar untuk mengawasi jalannya konklaf.
Namun, pemilihan ini jauh dari kata sederhana. Ketika para kardinal berkumpul di balik pintu tertutup, muncul berbagai skandal, intrik, dan rahasia yang mulai terungkap satu per satu. Ada berbagai kandidat dengan agenda masing-masing, termasuk Kardinal Joseph Tremblay (John Lithgow), yang penuh ambisi, Kardinal Joshua Adeyemi (Lucian Msamati), yang membawa perspektif baru dari Afrika, serta Kardinal Goffredo Tedesco (Sergio Castellitto), seorang konservatif garis keras. Situasi semakin panas ketika seorang kardinal misterius dari Timur Tengah muncul dengan rahasia yang bisa mengguncang Gereja Katolik secara global.
Plot dan Ketegangan Politik
Film ini berfokus pada bagaimana kekuasaan bisa merubah seseorang, bahkan di lingkungan religius sekalipun. Di tengah diskusi tentang siapa yang pantas menjadi pemimpin baru, berbagai kepentingan pribadi dan politik mulai mempengaruhi pemungutan suara. Konspirasi mulai terbentuk, aliansi terbentuk dan dihancurkan, sementara ketegangan di dalam Kapel Sistina semakin meningkat.
Kardinal Thomas Lawrence berusaha sebaik mungkin untuk menjaga integritas pemilihan, tetapi semakin ia menggali lebih dalam, semakin ia menemukan fakta-fakta mengejutkan tentang para kandidat. Film ini benar-benar menggambarkan dilema moral yang dihadapi para kardinal: apakah mereka memilih berdasarkan iman dan keyakinan, atau berdasarkan politik dan kekuasaan?
Karakter dan Performa Akting
- Kardinal Thomas Lawrence (Ralph Fiennes): Sebagai tokoh utama, Fiennes tampil luar biasa dalam memerankan seorang pria yang berjuang antara keyakinan dan kebenaran. Aktingnya yang penuh ekspresi dan keteguhan moral membuat penonton terhubung dengan dilema yang ia hadapi.
- Kardinal Joseph Tremblay (John Lithgow): Lithgow membawakan karakter yang ambisius dan penuh perhitungan dengan sangat meyakinkan. Dia adalah representasi dari bagaimana kekuasaan bisa merusak idealisme.
- Kardinal Joshua Adeyemi (Lucian Msamati): Salah satu karakter paling menarik dalam film, Adeyemi membawa perspektif modern dan progresif yang membuatnya menjadi kandidat yang disukai oleh banyak pihak.
- Kardinal Goffredo Tedesco (Sergio Castellitto): Sebagai sosok konservatif, Tedesco menampilkan bagaimana tradisi sering kali bertentangan dengan perubahan yang diperlukan.
- Kardinal Aldo Bellini (Stanley Tucci): Bellini adalah sosok moderat yang memiliki pengaruh besar dalam konklaf dan menghadirkan ketegangan tersendiri dalam alur cerita.
- Suster Agnes (Isabella Rossellini): Sebagai satu-satunya tokoh perempuan yang cukup menonjol dalam film ini, ia memiliki peran penting dalam mengungkap beberapa rahasia yang mengejutkan.
Setiap karakter memiliki kedalaman yang membuat penonton sulit untuk menentukan siapa yang benar-benar layak menjadi Paus selanjutnya. Intrik dan konflik yang terjalin di antara mereka membuat film ini terasa semakin intens.
Baca Juga: Review Film Mickey 17: Fiksi Ilmiah Unik dari Bong Joon-ho
Sinematografi dan Atmosfer
Film ini memiliki sinematografi yang sangat apik, dengan penggunaan pencahayaan redup dan tata ruang yang mengesankan dalam menggambarkan suasana Vatikan yang penuh misteri. Adegan di Kapel Sistina terasa megah dan khidmat, mencerminkan pentingnya momen pemilihan Paus. Kamera sering kali menangkap ekspresi wajah para kardinal dengan close-up yang mendalam, membuat penonton merasakan ketegangan yang mereka alami.
Tema dan Pesan Moral
Selain menyajikan drama politik yang mendebarkan, Conclave juga menyentuh tema tentang moralitas, iman, dan tanggung jawab kepemimpinan. Film ini mempertanyakan apakah seseorang benar-benar bisa bersih dari kepentingan pribadi dalam proses pemilihan pemimpin, bahkan di lingkungan yang dianggap suci seperti Vatikan. Ini adalah refleksi yang relevan dengan banyak situasi di dunia nyata, tidak hanya dalam konteks agama tetapi juga politik secara umum.
Akhir Kata
Conclave adalah film yang memadukan drama, politik, dan spiritualitas dalam satu paket yang memikat. Dengan alur cerita yang penuh ketegangan, karakter yang kompleks, dan sinematografi yang indah, film ini mampu menghadirkan pengalaman yang menggugah pikiran bagi para penontonnya. Jika Anda menyukai film dengan plot yang cerdas dan penuh intrik, Conclave adalah pilihan yang sangat direkomendasikan.
Rating: 8.5/10
Bagaimana menurut kamu? Apakah film ini berhasil memenuhi ekspektasi atau justru meninggalkan banyak pertanyaan? Yuk, diskusikan di kolom komentar!